PENGUATAN TRIDARMA DOSEN ERA PANDEMI COVID-19 DAN NEW NORMAL. Tendensi dan Tradisi
Watch “PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN dan BUDI PEKERTI 01” on YouTube
Watch “Presentasi Dengan NLP” on YouTube
Watch “Praktik Mata Kuliah Teknologi dan Media Pembelajaran PAK di STT MORIAH, GADING SERPONG” on YouTube
KEHORMATAN ORANG YANG ‘BEKERJA SAMA’ DENGAN TUHAN

Hakikatnya, Tuhan menciptakan manusia bukan untuk menderita dan sengsara. Tetapi Ia ingin membentuk manusia kuat yang dapat bekerja sama dengan-Nya agar mampu menjadi penolong bagi sesamanya yang membutuhkan bantuan.

Adalah seorang anak yang memasang lilin di atas sebuah paku tempat lilin yang bagian bawahnya keropos. Orang yang melihat keadaan itu, menduga bahwa tak lama lagi lilin itu akan tumbang dan mati. Namun apa yang diperkirakannya ternyata berbeda dengan kenyataan yang terjadi. Lilin tersebut tetap kokoh berdiri karena ditutupi oleh lelehan lilin cair yang terbakar. Benar, kelak lilin itu akan habis dan mati. Tapi posisinya tetap kukuh sampai ia habis terbakar.
Apa yang kita pelajari dari hal ini? Sahabat yang terkasih, lelehan lilin yang menyala akan memperkuat dirinya hingga diakhir. Kehidupan yang kita jalani tidak selalu mulus dan rata. Tantangan dan ujian di dalam hidup ini ternyata memperkokoh diri untuk tetap berdiri dengan tegap. Indah juga jika tangisan, tekanan jiwa dan tetesan keringat ternyata dapat menguatkan posisi kita dalam menghadapi badai kehidupan.
Mengalami Revival Tanpa Menjadi Menjadi Rival

Karya penyelamatan Tuhan hendaknya tidak diterima secara serampangan, dengan menyia-nyiakan kebaikan hati Tuhan yang telah diterima-Nya. Adalah menjadi suatu tanggung jawab bagi penerima karya keselamatan Tuhan dengan bekerja sepenuh hati untuk-Nya. Seorang Hamba Tuhan yang fokus terhadap pekerjaannya di “Ladang Tuhan” tidak akan sempat untuk menjadikan tetangga ladangnya sebagai Rival oleh karena Ia telah menerima Revival. Ia akan terus menjaga dan memperhatikan pertumbuhan tanaman di ladangnya tanpa harus iri hati kepada peladang lain. Hanya orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak memiliki kesibukan yang sempat untuk menjatuhkan sesama peladang.
Seorang yang mampu menerima keberadaan orang lain tanpa menjadi rival adalah seorang yang piawai dalam membangun cinta. Mencintai berbeda dengan membangun cinta. Mengapa rumah tangga dapat berbahagia? Apakah karena saling jatuh cinta? Bukan! Karena pasangan itu terus membangun cinta. Jatuh cinta itu Cuma perlu waktu sebentar, tapi membangun cinta perlu seumur hidup.
Tiga Kelompok Pencobaan
Terdapat beberapa jenis pencobaan bagi para “Teman atau Rekan Sekerja Tuhan” yang jika dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar menurut Norman Hillyer adalah sebagai berikut:
Kelompok pencobaan yang pertama adalah Penderitaan; yaitu tekanan-tekanan secara jasmani, mental, dan rohani; menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran. Sesungguhnya, tak ada seorangpun yang tahan menanggungnya jika ia tidak hidup benar-benar di dalam Tuhan. Keadaan orang yang sedang dalam penderitaan jenis ini seringkali membuat ia menjadi lekas marah, bahkan meluap menjadi amarah yang tak terkendali. Jika kesabaran itu adalah sebuah ilmu, maka kesabaran adalah ilmu tingkat tinggi. Belajar sabar harus setiap hari, latihannya setiap saat dan ujiannya selalu mendadak. Rekan sekerja Tuhan yang lulus dari ujian kesabaran ini adalah rekan yang layak untuk diberi nilai tinggi.

Kelompok pencobaan yang ke dua adalah kesukaran-kesukaran yang disebabkan oleh orang lain; menanggung dera, dalam penjara, dan kerusuhan. Seorang anak berusia 9 tahun yang bernama Willie Myrick dari Atlanta, diculik pada tanggal 31 Maret 2014 dari depan rumahnya. Willie adalah seorang anak yang taat dan cinta Tuhan. Willie kecil bernyanyi tak putus-putusnya selama tiga jam di dalam mobil penculiknya. Lagu Every Praise yang dinyanyikannya membuat penculik tidak tahan kemudian melepaskan Willie tanpa dicederai dan minta uang tebusan. Willie telah menjadi teladan bagi teman-teman dan keluarganya. Ketergantungannya kepada Tuhan tidak sia-sia. Mampukah sebagai rekan sekerja Tuhan, tetap tegar dan bahkan menerima pencobaan jenis ini dengan tidak membalas?
Kelompok pencobaan yang ke tiga adalah kesukaran-kesukaran demi pemberitaan Firman Tuhan; yaitu berjerih payah, kepayahan jasmani dan rohani, berjaga-jaga semalaman dan berpuasa. Konsekuensi dari pekerjaan pemberitaan Firman-Nya adalah kelelahan dalam melakukan persiapan. Tidak ada suatu pekerjaan yang layak dan pantas diacungi jempol tanpa persiapan yang luar biasa. Persiapan Pelayanan Firman Tuhan bukan semata-mata menulis ringkasan atau garis besar atau catatan khotbah. Persiapan yang paling utama adalah persiapan hati dan pikiran yang hanya tertuju kepada Sang Firman itu sendiri. Seberapa jujurnya kita melakukan persiapan dalam pelayanan pemberitaan itu. Bergantungkah kita kepada suara Tuhan yang dikehendaki-Nya untuk disampaikan kepada umat pilihan-Nya, ataukah bergantung kepada suara hati kita sendiri, atau suara hati orang lain, berdasarkan amanat para tua-tua?
Kerinduan Manusia Pada Umumnya
Apa lagi yang dicari manusia saat ini? Ketika hidup di gunung, merindukan pantai, hidup di pantai, merindukan gunung. Jika musim kemarau, kita bertanya kapan hujan? Di musin hujan, tanya kapan kemarau? Diam di rumah inginnya pergi. Setelah pergi ingin pulang. Waktu tenang, cari keramaian, waktu ramai mencari ketenangan. Ketika bujang, mengeluh ingin menikah. Sudah berkeluarga, mengeluh ingin punya anak. Setelah punya anak, mengeluh betapa beratnya beban hidup dan pendidikan. Ternyata … sesuatu itu tampak indah karena belum dimiliki. Lalu apa lagi yang harus dikejar. Duluuu … belum S1 menggebu ingin meraihnya cepat. Setelah itu? Ingin S2 dan seterusnya. Lalu apa yang sebenarnya dicari manusia? Reputasi? Harta? Entahlah, tergantung diri kita sendiri. TAPI DIA YANG MENCIPTA BERKATA:” JADILAH SETURUT DENGAN GAMBARKU”.
Mampu Menembus Kegelapan Seperti Seshen dari Mesir
Seshen atau Seroja atau Lotus di zaman Mesir kuno, banyak dijumpai di pinggiran sungai Nil. Bunga, buah dan daun kelopaknya dijadikan motif dalam arsitektur kuil di Mesir. Seshen di bawa dari Mesir ke Assiria dan menyebar hingga ke Persia, India, dan Tiongkok. Pada tahun 1787 Sir Joseph Banks membawa Seshen ke Eropa Barat, demikianlah bunga ini kini ada di segala tempat.
Bunga ini tumbuh keluar dari air berlumpur, tidak berbau tetapi harum mewangi, tidak kotor melainkan bersih dan elok. Bunga ini dianggap sebagai bunga yang memiliki daya juang yang lebih tinggi dari bunga-bunga lainnya. Bunga ini melambangkan keindahan dan spiritualitas, merupakan perwujudan perjalanan dari kegelapan kearah terang. Di Mesir, bunga ini mewakili matahari dan melambangkan semangat, kelahiran kembali, kecantikan, kesuburan dan kebangkitan.
Kiranya filosofi Bunga Seshen ini mampu memotivasi kita untuk bangkit memperbaiki hidup yang penuh noda kekotoran menembus kearah terang, berpengetahuan yang benar yang berasal hanya dari Tuhan kita yang hidup. Biarlah melalui di sisa umur yang diberikan, kita nampak seperti bunga yang harum dan elok di mata Tuhan dan sesama. Biarlah kehormatan orang yang ‘bekerja sama’ dengan Tuhan menjadi nyata. Amin.

PUASA BUKAN MENAHAN NAFSU
A. LATAR BELAKANG

Puasa yang sejati bukanlah sekedar menghentikan asupan makanan dalam kurun waktu tertentu, bukan juga menjauhkan diri dari beberapa makanan tertentu, melainkan menanggalkan praktik-praktik dosa (Abba john),[1] dan mendekatkan diri kepada Allah. Puasa dalam bahasa Ibrani: צום ; ”tzum” memiliki arti untuk menutupi (mulut), yaitu, berpuasa. Jika mencari makna berpuasa menurut Yesaya 58 : 4 -7 yang tertulis demikian;
Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN? Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!
Berpuasa adalah ibadah yang oleh kebanyakan orang dipahami secara kurang tepat. Sebagian orang merasa bahwa puasa memiliki nilai religi yang tinggi, dan sebagian orang lainnya lagi tidak menganggap hal ini lebih penting dari ibadah yang lainnya.
B. POKOK MASALAH
Rasul Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 9:27: “alla upopiazo mou to soma kai doulagogo, me pos allois keruxas autos adokimos genomai”. Yang dalam bahasa Indonesia berarti: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak”. Melatih tubuh dan menguasai seluruhnya merupakan usaha manusia untuk meninggalkan manusia lama. Dengan berpuasa nafsu makan ditaklukan. Saat satu nafsu ditaklukkan, nafsu-nafsu lain akan lebih mudah dikalahkan. Oleh sebab itu puasa dapat dikatakan sebagai latihan rohani, dan setiap latihan yang dilakukan dengan benar, akan menghasilkan kekuatan kerohani.
Seorang yang rajin untuk melatih diri dengan disiplin yang ketat akan membuatnya mampu menguasai tubuhnya dari keinginan daging atau nafsu keduniawian. Namun tentu saja usaha untuk mencapai tingkat yang seperti ini bukanlah hal yang mudah untuk dikerjakan oleh setiap umat Tuhan.
Puasa secara Kristiani fokusnya adalah ke arah Yesus. Diharapkan dengan menjalani ibadah puasa hidup yang biasanya diwarnai dengan keakuan, diubah menjadi hidup bersama Kristus.

Umat Kristiani sering memahami kemerdekaan manusia setelah peristiwa ‘Penebusan’ secara tidak lengkap. Kebanyakan mereka tidak memiliki minat untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dengan jalan berpuasa. Pada umumnya, mereka lebih condong untuk melakukan pelayanan, penginjilan dan pemuridan. Puasa tidak dianggap sebagai bagian ritual yang penting dan harus dikerjakan, sehingga kurang didorong, diajak atau dimotivasi untuk melakukannya.
C. PENGERTIAN PUASA
Istilah Tzomologi atau Teologi Puasa diambil dari bahasa aslinya Ibrani tsûm yang dalam bahasa inggris disebut fast puasa dan fasting berpuasa. Seringkali orang salah persepsi dengan kata puasa. Puasa hanya dipahami sebatas tidak makan dan minum untuk memenuhi kewajiban umat beragama semata.
Banyak orang melakukan ritual puasa namun masih melakukan kebiasaan-kebiasaan sebagai manusia lamanya. Bahkan tidak sedikit orang yang berpuasa menjadi arogan dan memandang rendah orang lain yang tidak mampu untuk melakukan ritual keagamaan ini. “Kejahatan” kerap berulang di saat orang berpuasa adalah marah, menghasut, merusak tempat usaha, rumah ibadah orang lain dan sebagainnya. Perilaku seperti ini jelas bukan puasa yang dikehendaki oleh Allah. Dalam Yesaya 58, Allah tidak suka dengan cara berpuasa yang seperti itu.
Puasa yang sesungguhnya atau yang sejati itu adalah usaha manusia mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan mematikan kehendak daging agar dapat menerima berkatNya sehingga mampu melaksanakan tugas panggilannya sebagai pengikut, gembala, pengajar dan pemimpin umat Allah.
D. ANALISIS TEOLOGIS
Dalam bab ini penulis akan melakukan analisis teologis atau kajjian Alkitabiah berdasarkan teks dan konteks.
- Berpuasa penting bagi orang Kristen
Terdapat beberapa alasan yang harus diketahui oleh umat Kristiani dalam hal berpuasa. Antara lain adalah; bermanfaat bagi kesehatan, melatih disiplin diri, melepaskan diri dari belenggu kebiasaan, mampu menghargai banyak hal.[2]
Daniel membatasi diri dangan tidak memakan makanan Raja dan Ia telah membuktikan bahwa membatasi diri dengan makanan dan minuman, bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia.[3]
Claudian menulis sebuah kata bijak dalam Bahasa Latin; Semper inops quicumque cupit, yang artinya adalah; siapa pun yang rakus selalu merasa kekurangan, tak berdaya, miskin. Orang yang tidak disiplin, sulit untuk mengendalikan ambisinya. Berpuasa menghindarkan diri dari budak kebiasaan. Kehidupan merupakan sebuah pilihan, ada orang yang nyaman terhadap kehidupan yang kacau, dan ada yang lebih nyaman hidup secara tertib. Beberapa kebiasaan; bangun di pagi hari vs bangun kesiangan, makan teratur vs makan tidak teratur, minum teh atau kopi vs minum air putih, makan makanan sehat vs makan makanan junk food, mengendalikan emosi dengan baik vs pemarah; merupakan hasil dari perilaku berulang seseorang.[4] Untuk mematahkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebiasaan baru yang baik, seseorang harus memutus rantai kebiasaan tersebut dengan berpuasa dan mulai belajar disiplin baru yang harus dipatuhinya sendiri.
Pribahasa dalam Bahasa Latin yang menggambarkan tentang menghargai adalah Aquila non capit muscas artinya adalah Elang tidak menangkap lalat. Seekor burung Elang memiliki julukan sebagai burung yang perkasa, ia tidak penah memangsa bangkai dan binatang renik. Seperti Elang yang berlatih di masa mudanya, seseorang yang melatih diri dengan berpuasa, akan memperoleh kepekaan dalam mendengar firman Tuhan; ia tidak akan mencemarkan diri dengan melakukan perbuatan yang hina.
2. Tujuan puasa bagi kehidupan manusia
Dalam Bahasa Ibrani, tsûm, dan ‘inna nafsyo secara harfiah mengandung arti ‘merendahkan diri dengan berpuasa’. Orang Ibrani berpuasa pada Hari Pendamaian, dalam Imamat 16:29 tertulis sebagai berikut: “Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu.”
Lev 16:29 והיתה לכם לחקת עולם בחדשׁ השׁביעי בעשׂור לחדשׁ תענו את־נפשׁתיכם וכל־מלאכה לא תעשׂו האזרח והגר הגר בתוככם׃
Lev 16:29: v’hay’Tah lakeM l’HukaT ,ovlaM baHode$ ha$’Viy,iy be,aSOr laHode$ T’,anu `eT ´ naf’$oTaykeM v’kal ´ m’la`kah lo` Ta,aSu ha`ez’raH v’hagar hagar b’Tovk’keM
Kata merendahkan diri dengan berpuasa adalah menunjuk pada sebuah keadaan atau situasi yang dikondisikan untuk memperoleh kesadaran penuh akan hakikat manusia yang sepenuhnya bergantung pada kuasa Tuhan. Merendahkan diri di hadapan Tuhan adalah menihilkan perasaan manusia yang menganggap bahwa hidup yang dijalaninya merupakan hasil usahanya semata-mata. Merendahkan diri di hadapan Tuhan adalah cara untuk mengontrol ketinggian hati manusia. Manusia yang tidak pernah merendahkan dirinya di hadapan Tuhan akan menjadikan dirinya sendiri sebagai Tuhan.
Ketika berpuasa, diharapkan bukan sekedar menghentikan kegiatan makan dan minum, tetapi membatasi diri terhadap pemuasan haus dan dahaga ‘kedagingan’. Setiap saat, manusia dapat mensuplai emosi, kepalsuan, pemuasan diri dan pesona. Berpuasa adalah sarana untuk menahan suplay tersebut di atas. Berpuasa merupakan alat uji untuk memeriksa kesehatan rohani diri sendiri. Alkitab berkata, ujilah dirimu untuk memastikan bahwa kamu teguh di dalam iman.[5]

3. Hasil yang diperoleh dari berpuasa
Jika berpuasa hanya sekedar menahan lapar dan haus, maka hasil ujian terhadap diri sendiri dinyatakan gagal. Oleh karena berpuasa adalah sarana untuk mencapai tujuan yang mulia. Sebab berpuasa digunakan untuk menguji diri apakah mampu mengalahkan ego dan menyeimbangkan tujuan hidup diri sendiri sebagai citra Allah.
Dalam II Korintus 13 : 5 dinyatakan oleh Rasul Paulus sebagai berikut; Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. Peirazō adalah akar kata Bahasa Yunani yang dipakai dalam kalimat ini, jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia memiliki makna untuk menguji (secara objektif), yaitu, berusaha, meneliti, membujuk, mendisiplinkan: – menguji, memeriksa, melakukan, membuktikan, menggoda (-er), cobalah.
Ketika seseorang berpuasa, diharapkan ia sedang dalam keadaan ‘pemeriksaan diri’ untuk dapat melihat ke dalam dirinya sendiri, untuk mencoba, membuktikan, dan mengenali jiwanya sambil memerhatikan apakah mereka masih berada dalam kualitas iman yang teguh; baik dalam janji iman, pengetahuan spiritual, cinta sejati, kasih sayang, keyakinan yang teguh, dan kekuatan jiwa yang tinggal di dalam raganya.

Timpe menulis dalam bukunya bahwa ada hubungan antara agama dengan temperamen spesifik atau karakteristik kepribadian yang kompleks. Dalam kajiannya, terdapat banyak prediksi teoritis yang menyatakan tentang keadaan individu beragama yang memiliki kepribadian berbeda-beda. Hal ini tentunya tergantung dari cara pembenahan diri masing-masing.[6] Sedangkan James memberi saran agar setiap individu yang bertobat, hendaknya dilakukan secara bertahap sehingga ada pengalaman batin yang berangsur-angsur dipulihkan dan menjadi sehat. Namun ada pula kasus orang yang telah bertobat, tiba-tiba mengalami kegoncangan jiwa. Kepahitan dan konsep diri yang terpecah-pecah (ideal versus diri sejati), muncul dari rutinitas yang terakumulasi. Untuk mengatasi masalah ini, manusia harus bersedia kembali ketitik awal. Mengosongkan diri dan mengisi dengan kekuatan Ilahi untuk dapat melepaskan belenggu kesengsaraannya. Melalui ibadah puasa, diharapakan setting awal citra manusia dapat dikembalikan. Apa yang seharusnya menjadi predikat manusia; sebagai makhluk yang sempurna dan berakal budi tetap menjadi bagiannya.
Marilah
kita berpuasa dengan benar; “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang
munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang
berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi
apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan
dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu
yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan
membalasnya kepadamu.”[7]
[1] Pdt. Dr. Indrawan Eleeas, 2010; Bukan Kristen Rutinitas, Yogyakarta: Penerbit Andi, p. 207
[2] William Barclay. 2015. Pemahaman Alkitab Setiap Hari. Injil Matius Pasal 1-10. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 388 -391
[3] Kitab Daniel 1: 1-8
[4] Elmer L. Towns. 1996. Fasting For Spiritual Break Through. California, USA; Regal Books. 90 – 94
[5] Rick Warren, 2002; The Purpose Driven Life, What on Earth Am I Here For? Grand Rapid’s Michigan; Zondervan
[6] Rendie L. Timpe. 1987. Psychology and Religion. Religion and Personality. Grand Rapids, Michigan; Bakker Book house. 216
[7] Matius 6: 16 – 18
Filsafat dan Agama
BAB I
LATAR BELAKANG
A. Latar Belakang
Dalam menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia senatiasa terkagum atas apa yang dilihatnya. Manusia sering ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya. Dalam situasi itu banyak yang berpaling kepada agama atau kepercayaan Ilahiah.
Tetapi sejak awal sejarah, ternyata sikap iman itu tidak juga mampu menahan manusia menggunakan akal budi dan pikirannya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik kenyataan (realitas) yang dihadapinya. Proses mencari tahu menghasilkan kesadaran, yang disebut pencerahan. Jika proses itu memiliki ciri-ciri metodis, sistematis dan koheren, dan cara mendapatkannya dapat dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah yang disebut orang sebagai ilmu pengetahuan.

Jauh sebelum manusia menemukan dan menetapkan apa yang sekarang kita sebut sesuatu sebagai suatu disiplin ilmu, sebagaimana kita mengenal ilmu kedokteran, fisika, matematika, dan lain sebagainya, umat manusia lebih dulu memikirkan dengan bertanya tentang berbagai hakikat apa yang mereka lihat. Dan jawaban mereka itulah yang nanti akan kita sebut sebagai sebuah jawaban filsafat.
Kegiatan manusia yang memiliki tingkat tertinggi adalah filsafat; yang merupakan pengetahuan benar mengenai hakikat segala yang ada, yang dapat ditelusuri sampai sejauh mungkin bagi kemampuan nalarmanusia. Bagian filsafat yang paling mulia adalah filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran pertama yang merupakan sebab dari segala kebenaran.
Metode filsafat adalah metode bertanya. Objek formal filsafat adalah ratio yang bertanya. Obyek materinya semua yang ada. Maka menjadi tugas filsafat mempersoalkan segala sesuatu yang ada sampai akhirnya menemukan kebijaksanaan universal. Manusia di dunia barat telah mengenal fisafat selama kurang lebih 3.00 tahun.[1]
Sonny Keraf dan Mikhael Dua mengartikan ilmu filsafat sebagai ilmu tentag bertanya atau berpikir tentang segala sesuatu (apa saja dan bahkan tentang pemikiran itu sendiri) dari segala sudut pandang. Thinking about thinking.[2]
Walau bagaimanapun banyaknya gambaran yang kita dapatkan tentang filsafat, sebenarnya masih sulit untuk mendefinisikan secara konkret apa itu filsafat, tapi ilmu filsafat memiliki peran yang sangat vital bagi perkembangan ilmu-ilmu lainnya. Oleh sebab itu, ilmu filsafat dikatakan sebagai ‘induk ilmu’. Dengan demikian, fisafat layak untuk dikaji demi mencari serta memaknai segala esensi kehidupan.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah:
- Mencari tahu persamaan dan perbedaan antara Filsafat dan Agama.

Persamaan antara Filsafat dan Agama adalah semuanya mencari kebenaran. Untuk mencari kebenaran, manusia harus tahu terlebih dahulu siapakah dirinya. Sedang perbedaannya adalah, Filsafat bersifat rasional yaitu sejauh kemampuan akal budi, sehingga kebenaran yang dicapai bersifat relatif. Agama berdasarkan iman atau kepercayaan terhadap kebenarannya, karena agama dipercayai sebagai wahyu dari Tuhan YME, dengan demikian kebenaran agama bersifat mutlak.
2. Menemukan manfaat Filsafat Ilmu bagi seseorang yang menekuni Teologi.
Kajian filsafat meliputi ruang lingkup yang disusun berdasarkan pertanyaan filsuf terkenal Immanuel Kant sebagai berikut:
- Apa yang dapat saya ketahui (Was kan ich wiesen).Pertanyaan ini mempunyai makna tentang batas mana yang dapat, dan mana yang tidak dapat diketahui. Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah suatu fenomena. Fenomena selalu dibatasi oleh ruang dan waktu. Hal ini menjadi dasar bagi Epistemologi. Eksistensi Tuhan bukan merupakan kajian Epistomologi karena berada di luar jangkauan indera. Bahan kajian Epistomologi adalah yang berada dalam jangkauan indera. Kajian Epistomologi adalah fenomena sedang eksistensi Tuhan merupakan objek kajian Metafisika. Epistomologi meliputi: Logika Pengetahuan (Knowledge), Ilmu Pengetahuan Ilmiah (Science) dan Metodologi.
- Apa yang harus saya lakukan (Was soll ich tun). Pertanyaan ini mempersoalkan nilai (values), dan disebut Axiologi, yaitu nilai-nilai apa yang digunakan sebagai dasar dari perilaku. Kajian Axiologi meliputi Etika atau nilai-nilai keutamaan atau kebaikan dan Estetika atau nilai-nilai keindahan.
- Apa yang dapat saya harapkan (Was kan ich hoffen)
Pengetahuan manusia ada batasnya. Apabila manusia sudah sampai batas pengetahuannya, manusia hanya bisa mengharapkan. Hal ini berkaitan dengan being, yaitu hal yang ”ada”, misalnya permasalahan tentang apakah jiwa manusia itu abadi atau tidak, apakah Tuhan itu ada atau tidak. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak terjawab oleh Ilmu Pengetahuan Ilmiah, tetapi oleh Religi. Refleksi tentang being terbagi lagi menjadi dua, yaitu Ontologi yaitu struktur segala yang ada, realitas, keseluruhan objek-objek yang ada, dan Metafisika yaitu hal-hal yang berada di luar jangkauan indera, misalnya jiwa dan Tuhan.
BAB II
PEMBAHASAN
- Siapakah Manusia
Manusia adalah makhluk yang berakal, berbudi, dan berkemampuan menguasai makhluk lain. Manusia diciptakan dalam bentuk jasmani yang tersusun dari bahan material dan organis, ia menampilkan sosoknya dalam aktivitas kehidupan jasmani. Manusia tidak jauh beda dengan binatang[3], ia memiliki kesadaran inderawi. Namun, manusia juga memiliki kehidupan spritual-intelektual yang secara intrinsik tidak tergantung pada segala sesuatu yang material[4].
Manusia adalah mahakarya ciptaan Tuhan yang sangat diistimewakan, sehingga semua yang ada di langit dan bumi yang diciptakan oleh Tuhan, dipersiapkan untuk melayani dan memenuhi kebutuhan manusia. Oleh karenanya, Tuhan menghendaki lebih kepada manusia daripada makhluk-Nya yang lain. Yaitu manusia memiliki karakter yang serupa dengan Citra-Nya.

Manusia adalah makhluk yang suka membantah karena diberi akal. Akal menyebabkan ego, dan ego menjadikannya keras kepala. Oleh karenanya, Tuhan yang Maha Bijaksana menyeru kepada manusia untuk melihat kepada alam, sehingga sadar bahwa ia tidak bisa membuat yang seperti itu, bahwa di sana ada kekuatan supranatural yang maha dahsyat yang menjadi penyebab adanya segala sesuatu.

- Tujuan Hidup

Pada hakikatnya tujuan manusia dalam menjalankan kehidupannya mencapai perjumpaan kembali dengan Penciptanya[5]. Perjumpaan kembali tersebut seperti kembalinya air hujan kelaut. Kembalinya manusia sesuai dengan asalnya sebagaimana dalam dimensi manusia yang berasal dari Pencipta maka ia akan kembali kepada Tuhan sesuai dengan bentuknya. Bentuk imateri akan kembali kepada-Nya dalam bentuk imateri sedangkan unsur materi yang berada dalam diri manusia akan kembali kepada materi.

- Berjalan Di Atas Kebenaran
Berjalan di atas kebenaran dapat dipahami sebagai berjalan dengan iman yang benar berdasarkan Firman Tuhan yang ditulis dalam Kitab Suci .

Berjalan dengan iman tidak sama dengan nekat, atau berjalan tanpa dasar. Namun berjalan berdasarkan keyakinan bahwa firman Tuhan itu “ya” dan “amin”. Abraham adalah contohnya. Ketika Tuhan memanggilnya keluar dari Ur dan pergi ke tempat yang akan ditunjukkan, sesungguhnya ia tidak tahu di mana dan seperti apa tempat itu. Akan tetapi, Abraham tetap taat. Bagaimana bisa? Surat Ibrani menjelaskan dengan gamblang, yaitu “dengan iman”. Artinya, Abraham percaya pada setiap firman dan janji yang keluar dari mulut Allah.
Iman dan firman adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Iman tanpa dasar firman Tuhan bukanlah iman sejati. Sebagai contoh, kerap kali ketika gereja akan mengadakan sebuah acara, seseorang mengatakan bahwa sukses atau tidaknya acara tersebut bergantung pada iman yang ada. Sementara, iman menuntut adanya tindakan. Maka penting sekali, sebelum mengatakan “mari beriman”, kita menguji diri terlebih dulu dengan firman Tuhan. Dan selalu mendasari iman dengan kebenaran firman Tuhan
Seorang reformator SQ, Budi Yuwono mengatakan bahwa untuk memahami masalah spiritual (Roh) dan Iman yang Suprarasio-Emosional dan berdimensi suprahalus, ia telah mempelajari tentang listrik yang tidak terlihat, tetapi kinerja dan manfaatnya nyata, serta mempelajari software program abstrak, tertapi bisa menyelesaikan permasalahan konkrit dengan perhitungan yang rumit. Sehingga untuk memahami masalah iman yang Suprarasio-Emosional tersebut, seseorang harus “melalui dan melampaui” puncak logika akal dan bukan “tidak masuk akal.”
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Kekristenan memberikan suatu pandangan yang berbeda tentang hidup manusia. Jikalau para filsuf (dan para penganut filsafat) melihat hidup manusia berawal dari dirinya sendiri, maka kekristenan melihat bahwa hidup itu dimulai dengan Allah. Para filsuf melihat makna dan tujuan hidup manusia berasal dan berakhir di dalam manusia itu sendiri. Namun kekristenan melihat makna dan tujuan hidup berawal dan berakhir di dalam tujuan dan rencana Allah.

Bersama Tuhan semuanya dapat terjadi dan tidak ada hal yang tak mungkin, terlepas dari apapun fakta dan kenyataannya. Ukuran ruang dan waktu bukan masalah bagi Tuhan, yang utama adalah konsep berpikir dan iman kita terhadap Tuhan.
- Saran
Bagi yang ingin hidup di dalam iman yang benar di tengah dunia yang tidak jelas arah dan tujuannya (chaos). Dan bagi seseorang ingin menemukan makna hidup sesungguhnya, hal itu bukan terletak pada materi (harta, kedudukan, prestise dan kepuasan hidup di dalam dunia) ataupun sejumlah pandangan filsafat sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, tetapi sesungguhnya terletak di dalam Kristus Yesus.
Ada banyak orang memiliki harta yang berlimpah, kedudukan yang tinggi dengan segala prestise yang mengikutinya, namun hidupnya hampa, tidak berarti dan kosong. Ada banyak orang yang juga memiliki filosofi hidup duniawi sebagaimana diyakini oleh para filsuf, namun mereka tidak menemukan “damai sejahtera” di dalam kehidupan mereka. Hidup mereka seakan tidak berguna dan putus asa.
Apa yang harus diputuskan saat ini adalah
menemukan makna hidup yang tepat. Diharapkan bahwa dengan menemukan makna hidup
yang tepat, maka orang percaya dapat menikmati kehidupan yang benar dan
bertanggung jawab di hadapan-Nya. Lebih dari itu bahwa orang percaya diharapkan
dapat memberikan pengaruh yang positif bagi lingkungan sekitarnya, dengan
menjadi “garam” dan “terang” dunia. Kiranya melalui hidup anda Allah Bapa dimuliakan.
[1] Prof. Dr. Samsunuwiyati Mar’at, Psi. & Prof Dr. Lieke Indrieningsih Kartono, Perilaku Manusia, (Bandung, PT. Refika Aditama, 2006), hal. 25
[2] Sonny Keraf dan Mikhael Dua. Ilmu Pengetahuan, Sebuah Tinjauan Filosofis.(Yogyakarta, Penerbit Kanisius 2010), 16
[3] Aristoteles
[4] Ernest Cassirer, Manusia adalah animal simbolikum. Manusia ialah binatang yang mengenal simbol, misalnya adat-istiadat, kepercayaan, dan bahasa. Inilah kelebihan manusia jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Itulah sebabnya manusia dapat mengembangkan dirinya jauh lebih hebat daripada binatang yang hanya mengenal tanda dan bukan simbol.
[5] 1 Yeremia 17:5
Dengar
Para pelajar senantiasa bergelut dengan bermacam-macam informasi yang harus diingatnya dengan baik agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Mulai dari tata tertib sekolah, daftar mata pelajaran, proses belajar mengajar, tugas-tugas sekolah, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, guru harus bijak dalam mengatur dan memilih strategi, model, dan media pembelajaran agar siswa mampu mengingat materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru.
Salah satu cara untuk membuat siswa mampu mengingat adalah dengan memanfaatkan indra pendengaran siswa. Dalam bahasa Ibrani, kata dengar adalah שׁמע yang tertulis shama dan dilafalkan ke dalam bahasa Indonesia shaw-mah. Makna yang diambil dari akar primitif ini dapat dipahami sebagai aktivitas untuk mendengar secara cerdas (seringkali dengan implikasi perhatian, kepatuhan, dan sebagainya yang berhubungan dengan perbuatan sebab-akibat untuk diceritakan), dengan penuh perhatian, memanggil atau mengumpulkan bersama, dengan hati-hati, menyetujui, mempertimbangkan, dengan tekun, memberi telinga, dan lain-lain yang intinya adalah menyimak atau mendengar untuk memahami. Contoh gambaran tentang kata dengar ini dapat dibaca dalam kitab Ulangan 15:5: asal saja engkau mendengarkan baik-baik suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segenap perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini. Kata asal saja engkau mendengarkan baik-baik, menunjuk kepada sebuah ungkapan yang bersifat anjuran bagi orang untuk mendengarkan dengan cerdas, atau mendengar untuk memahami. Memahami apa yang diperintahkan oleh Allah kepada umat-Nya, agar berkat-berkat-Nya turun atas orang yang melakukan perintah tersebut. Bagaimana seseorang mampu melakukan perintah Tuhan dan memperoleh berkat-Nya, jika ia tidak memahami. Bagaimana pula seseorang dapat memahami, tanpa mendengar atau menyimak dengan baik apa yang dimaksud dengan perintah tersebut.

Melalui “pendengaran yang baik”, pemahaman akan timbul. Dari pemahaman, memicu tindakan sebagai respons terhadap pemahamannya tersebut. Oleh sebab itu dapat dikatakan suara dapat memiliki fungsi sebagai katalisator atau stimulus bagi timbulmya sebuah pengalaman. Dalam teori ilmu komunikasi, Ruben (2017) menyatakan bahwa penerimaan informasi sama kompleks dan pentingnya dengan pengiriman pesan. Sedangkan Markowitz (2002) menulis bahwa tidak semua informasi yang diperoleh dapat diingat, kecuali dikodekan secara sadar dalam sistem memori. Dasar untuk memasukkan memori tersebut adalah motivasi; semakin besar niat untuk mendengar dan memerhatikan ujaran yang disampaikan orang lain, maka semakin besar peluang untuk menyimpan dan mengingatnya kembali. Seseorang yang sering mengamati, mendengar, dan memikirkan sesuatu, akan semakin dalam tertanam ingatan tersebut. Perhatikan Firman Tuhan yang terdapat dalam kitab Ulangan 6 yang secara gamblang menerangkan tentang perintah dan ketetapan Tuhan yang harus didengar dan diaplikasikan dengan setia oleh pendengar-Nya. Mendengar dan memperkatakannya kembali kepada garis keturunannya adalah sebuah guidance atau bimbingan dari Tuhan kepada “umat pilihan-Nya” untuk menjalankan semua perintah dan ketetapan-Nya tersebut.
The Journey Begins
Thanks for joining me!
Good company in a journey makes the way seem shorter. — Izaak Walton

